Jumat, 02 November 2012
NILAH.COM, Berlin – Dua organisasi kontroversial ini dikecam berbagai kalangan di dunia karena gencar mempromosikan ras unggul. Kini, di jaman modern, mereka bertemu di Jerman. Apa yang terjadi?
Dari kegelapan, laki-laki dan perempuan ini muncul dengan obor di tangan mereka. Tudung putih menutup kepala dan mereka membentuk lingkaran. Dengan Bahasa Inggris patah-patah, mereka bersumpah akan terus menyanjung ‘kekuatan putih’ alias ras kulit putih.
Setelah ikrar diucapkan, mereka membakar dua palang kayu berbentuk salib. Seperti inilah ketika Ku Klux Klan (KKK) bertemu. Mereka adalah organisasi rasis rahasia dari Amerika yang dikenal amat mendiskriminasi ras kulit hitam.
Namun pertemuan kali ini tidak bertempat di Benua Amerika. Mereka berkumpul di negara Eropa yang memiliki sejarah rasis terkelam, Jerman. KKK cabang Jerman mengunggah video pertemuan yang diperkirakan terjadi pada Februari 2011 itu ke internet.
Kelompok rasis dengan ciri khas tudung runcing ini didirikan 150 tahun lalu oleh pejabat dari tentara konfederasi yang kalah, setelah Perang Sipil berakhir di Amerika. Mereka menolak kemenangan Utara, berakhirnya perbudakan dan persamaan hak bagi kulit hitam.
Dipimpin oleh seorang Grand Wizard, kelompok yang mengenakan seragam jubah putih ini memburu orang kulit hitam untuk menyiksa dan menguliti mereka atau menggantung di pohon terdekat.
Salib yang dibakar adalah ciri khas KKK, simbol kebencian rasisme. Salib itu mewakili cahaya Yesus, bukti bahwa Kristen adalah bagian dari identitas kelompok ini. Misionaris KKK pun mendulang sukses di Jerman yang ternyata sudah memiliki ‘cabang’.
Cabang KKK di Jerman ini pertama menarik perhatian saat menebar teror sayap kiri terkait Nationalist Socialist Underground (NSU) yang menyebabkan dua anggota kepolisian ditembak mati pada 2007 lalu.
KKK sekian lama berusaha menciptakan basis yang solid di Jerman. Pertemuan pertama mereka dilakukan pada awal abad ke-20 di Berlin. Setelah Perang Dunia II usai, ditemukan banyak salib terbakar di bekas markas tentara Amerika.
Pada 1960-an, media memperkirakan terdapat dua ribuan anggota KKK di Jerman. Salah satu orang yang diduga anggota KKK mengungkapkan kepada suratkabar Abendzeitung bahwa Jerman Selatan adalah benteng KKK di Eropa.
Neo-Nazi Jerman pun menganut simbol dan ideologi KKK. Terutama setelah KKK meninggalkan stiker di sebuah tempat penampungan tunawisma, setelah salah satu anggotanya memporakporandakan tempat itu pada 1991 lalu.
Stiker itu bergambar seorang pria bertudung yang membawa kapak. Terdapat tulisan cabang KKK Jerman di POB 1747 Bielefeld. Stiker ini juga dibawa oleh seorang pria yang diduga tersangka penyerangan itu.
Stiker itu kemudian muncul di berbagai tempat, di tahun yang sama. Tak lama, pemimpin KKK Amerika, Dennis Mahon, berkunjung ke Jerman di malam hari dan mengadakan pertemuan rahasia di daerah Konigs-Wusterhausen, Negara Bagian Brandenburg.
Sekitar 50 orang bertudung muncul, membakar salib. Saat itu, Mahon berbicara serius mengenai kolaborasi KKK dan Neo-Nazi. Jika bersama, kata Mahon, mereka bisa mendirikan sebuah front teror yang kuat.
Di jaman modern seperti saat ini, keberadaan KKK di Jerman masih bisa dilacak. Ditemukan empat kelompok yang diduga KKK, salah satunya di Berlin. Kelompok ini dipimpin seseorang yang mengaku ‘Uskup Agung’ dan dipanggil ‘Reverend Imperial Wizard’.
Ia membuat pernyataan di internet, bahwa dirinya menerima petuah tertinggi dari Klan. Ia mengklaim bukan seseorang yang rasis. Aparat Jerman menyatakan, ia memiliki banyak pengikut meski diawasi ketat oleh polisi dan intelijen.
Intelijen Jerman memiliki seorang informan, yakni petinggi KKK Jerman bernama kode ‘Piato’. Ia diduga terlibat insiden pembakaran salib dan juga dikatakan sebagai anggota Neo-Nazi.
Piato kini menanti sidang, karena memukuli tuna wisma berkulit hitam hingga sekarat. Saat menanti masa sidangnya itulah, Piato setuju bekerjasama dengan aparat keamanan dan menjadi informan mereka.
Informan lainnya bernama kode ‘Corelli’ dan masih aktif di lingkaran KKK. Di kalangan organisasi ini kemudian muncul kecurigaan bahwa pemimpin mereka adalah informan untuk aparat penegak hukum Jerman.
Efektivitas pengawasan macam ini masih dipertanyakan oleh banyak kalangan. Sebab, meskipun amat jarang, masih terjadi serangan berbau rasis di Jerman. Entah oleh KKK atau Neo-Nazi, dan apakah akan ada sesuatu yang besar dari hasil kolaborasi mereka. [ast]
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar